Opposite News 24 - Ekonom sekaligus pengamat bisnis, Benny Batara Hutabarat (Bennix) menilai pelegalan praktik perjudian dalam bentuk kasino, bakal meningkatkan pendapatan negara minimal Rp200 triliun per tahun.
"Kalau
ini diselenggarakan oleh negara atau ada kepala daerah yang punya nyali
buat bikin ini minimal dapat Rp200 triliun setahun loh," kata Bennix
dalam diskusi publik dengan tajuk 'Legalisasi Kasino di Indonesia:
Antara Kepastian Hukum, Tantangan Sosial, dan Peluang Ekonomi' di
kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (7/6/2025).
Ia
menambahkan, dengan adanya peningkatan pendapatan yang signifikan, tentu
akan berdampak baik terhadap pembangunan negara atau daerah, dari sisi
infrastruktur dan lainnya.
Selain itu, Bennix
juga menyinggung mengenai banyaknya Warga Negara Indonesia yang berjudi
di kasino di negara lain. Hal itu menujukan adanya perputaran uang dari
Indonesia negara lain.
Karenanya, legalisasi kasino disarankan untuk dilakukan. Sehingga, bisa menarik kembali uang dalam jumlah besar yang 'kabur'.
"Ya
ini harus segera kita bikin kalau enggak makin banyak duit kita Ini
bukan lagi ngomong duit Rp1-2 Miliar ya ini ngomong duit ratusan triliun
yang kabur keluar negeri karena negara gagal memiliki nyali untuk
membangun usaha serupa," kata Bennix.
Di
sisi lain, anggota Komisi III DPR RI Hasbiallah Ilyas mengatakan
pelegalan kasino di Indonesia bukan pilihan yang tepat untuk menambah
pendapatan negara. Sebab, kultur masyarakat di Tanah Air berbeda dengan
negara-negara tetangga.
“Kalau (soal pendapatan
negara dari kasino jadi opsi terakhir) menurut saya tidak perlu. Karena
kultur kita berbeda dengan kultur negara-negara yang melegalkan judi.
Kultur masyarakat kita dan SDM masyarakat kita yang berbeda dengan
Singapura,” kata Hasbiallah dalam diskusi yang sama.
Untuk
menambah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ia menyebut
banyak potensi lain yang bisa digali. Misalnya, dari sumber daya alam
yang diperketat pengelolaannya.
“Yang kedua,
program pemerintah hari ini untuk mengambil 2 juta hektar lahan sawit.
Ini kan potensi-potensi yang bisa menambah income untuk negara,”
ujarnya.
Yang terpenting, Hasbi menjelaskan,
aparat penegak hukum perlu memperkuat aturan pendapatan penghasilan
tersebut. Tidak hanya dari tambang bisa juga dari perpajakan.
“Yang
penting diperketat dan menutup kebocoran-kebocoran yang ada. Kalau
kebocoran-kebocoran ini bisa kita tutup, saya rasa cukup potensi negara
kita kuat untuk mendapatkan itu,” jelas Hasbi.
Asal
tahu saja, isu ini bermula saat sejumlah objek baru penerimaan negara
bukan pajak (PNBP) diusulkan oleh para anggota dewan di Komisi XI DPR.
Mereka pun mencontohkan objek baru PNBP yang dapat dimaksimalkan
termasuk jasa atau layanan di sektor pariwisata hingga ke sumber daya
alam baru nonminyak dan gas bumi.
Pembahasan
ini diusulkan oleh, Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Golkar, Galih
Kartasasmita saat rapat kerja dengan Direktorat Jenderal Anggaran
Kementerian Keuangan di Komisi XI DPR pada Kamis (8/5/2025).
"Mohon
maaf nih, saya bukannya mau apa-apa, tapi UEA kemarin udah mau jalanin
kasino, coba negara Arab jalanin kasino, maksudnya mereka kan out of the
box gitu kementerian dan lembaganya," kata adik Menteri Perindustrian
(Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.
Galih
berpendapat, UEA memiliki kemiripan dengan Indonesia karena sama-sama
bergantung dengan sektor sumber daya alam (SDA) untuk setoran PNBP.
Selain UEA, pengenaan kasino sebagai objek baru PNBP juga telah
dilakukan oleh pemerintah Thailand.
Belakangan,
adik dari Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita
(AGK) ini mengklarifikasi ucapannya. Menurutnya, kala itu ia meminta
pemerintah untuk berpikir kreatif dalam mencari pemasukan negara bukan
pajak (PNBP) selain dari sektor sumber daya alam nonmigas. Ia kemudian
mengambil contoh ekstrem keberhasilan Uni Emirat Arab (UEA) mencari PNBP
di luar SDA nonmigas dengan membuka kasino.
"Saya
tidak pernah ada usulan, enggak ada tuh bahasa kata usulan saya ingin
Indonesia membuka kasino, enggak ada!" kata Galih kepada wartawan,
Jakarta, Kamis (15/5/2025).
Sumber: inilah







0 comments:
Posting Komentar