Opposite News 24 - Suasana Jumat di Masjid Darul Falah, Kecamatan Rappocini, Makassar, mendadak berubah menjadi haru dan duka. Seorang khatib Ustaz Yahya Waloni yang tengah menyampaikan khutbah Jumat tiba-tiba jatuh di mimbar, Jumat 6 Juni 2025.
Ia adalah Ustaz Yahya Waloni, 55 tahun,
pendakwah yang dikenal luas karena perjalanan spiritual dan dakwahnya
yang kontroversial namun penuh semangat.
Pada
khutbah Jumat siang itu, Yahya Waloni masih berbicara lantang. Suaranya
menggema, menyerukan pentingnya mentauhidkan Allah SWT, sebuah pesan
yang menjadi inti dakwahnya selama bertahun-tahun.
Namun,
saat khutbah kedua dimulai, langkahnya mulai goyah. Beberapa detik
kemudian, tubuhnya tumbang, tak sadarkan diri di hadapan para jamaah
yang terdiam terpaku.
“Masih sempat berdiri,
dan mengingatkan kita pentingnya bertauhid kepada Allah,” ujar Harfan
Jaya Sakti, Sekretaris Pengurus Masjid Darul Falah, mengenang momen
menggetarkan itu kepada wartawan.
Jamaah yang
panik segera memberikan pertolongan dan membawanya ke rumah sakit
terdekat. Namun takdir berkata lain. Ustaz Yahya Waloni dinyatakan
meninggal dunia oleh pihak rumah sakit.
Dari Pendeta ke Pendakwah
Nama
Yahya Waloni mencuat ke publik setelah kisah hijrahnya dari seorang
pendeta menjadi pendakwah Muslim. Perjalanan spiritualnya menjadi
inspirasi sekaligus kontroversi.
Ia kerap hadir
di tengah masyarakat membawa pesan tegas tentang akidah dan ketauhidan.
Gaya ceramahnya yang berapi-api membuatnya dicintai sekaligus dikritik,
namun tak bisa dipungkiri, ia adalah sosok yang menggerakkan banyak
hati.
Sebagai informasi, Yahya Waloni lahir di Manado pada 30 November 1970.
Sejak muda, ia dikenal sebagai seorang pendeta yang memiliki nama asli Yahya Yopie Waloni.
Selama perjalanan hidupnya, ia mengalami perubahan drastis ketika memutuskan untuk memeluk agama Islam.
Yahya Waloni memeluk Islam dengan dibimbing oleh Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli, Komarudin Sofa.
Keputusan tersebut juga diikuti oleh istri dan anak-anaknya yang ikut serta memeluk agama Islam.
Setelah menjadi seorang Muslim, Yahya mengganti namanya menjadi Muhammad Yahya.
Begitu
juga dengan nama istrinya yang berubah menjadi Mutmainnah, sementara
anak-anaknya yang bernama Silviana dan Sarah pun mengganti nama mereka
menjadi Nur Hidayah dan Siti Sarah.
Satu-satunya anak yang tetap menggunakan nama aslinya adalah Zakaria.
Setelah
memeluk Islam, Muhammad Yahya Waloni dikenal sebagai seorang pendakwah
yang aktif membahas isu-isu tentang kristenisasi dan misionaris.
Khutbah dan Salam Perpisahan
Sebelum
khutbah Jumat terakhirnya, Yahya Waloni juga sempat menyampaikan
khutbah Iduladha di Jalan Rajawali, Makassar. Meski usianya menginjak 55
tahun, semangat dakwahnya tak pernah surut.
Kini,
jasad beliau disemayamkan di Masjid Darul Falah. Rencananya akan dibawa
ke rumah duka di Jakarta, tempat yang telah menjadi bagian dari
perjalanannya sebagai dai nasional.
Ada yang
istimewa dari khutbah terakhir itu. Bukan hanya karena itu adalah pidato
terakhir sang ustaz, tapi karena isinya seolah menjadi pesan
perpisahan, tentang keikhlasan dalam beribadah, tentang ketauhidan yang
sejati, dan tentang pentingnya hidup untuk Allah.
Bagi para jamaah yang hadir saat itu, momen jatuhnya Yahya Waloni dari mimbar bukan hanya kejadian tragis—namun juga sakral.
Ia
wafat dalam keadaan khatib, menyampaikan pesan ilahi, di hari Jumat
yang penuh berkah. Sebuah akhir yang mungkin diidamkan oleh banyak
ulama.Warisan Dakwah yang Tertinggal.
Terlepas
dari pro dan kontra, Yahya Waloni telah meninggalkan jejak panjang dalam
dunia dakwah Indonesia. Ceramah-ceramahnya menyebar luas di media
sosial, dan kisah hijrahnya menjadi bagian dari narasi besar tentang
pencarian kebenaran dalam kehidupan beragama.
Kini,
pendakwah yang dikenal keras dalam prinsip itu telah kembali ke
pangkuan Ilahi. Namun suaranya, pesannya, dan perjuangannya akan terus
dikenang, terutama oleh mereka yang pernah tersentuh oleh dakwahnya.***
Sumber: wawainews







0 comments:
Posting Komentar