Opposite News 24 - Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan tambang nikel yang berada di Pulau GAG berjarak kurang lebih 30-40 kilometer dari kawasan pariwisata Raja Ampat, Papua Barat Daya.
“Piaynemo
itu pulau pariwisatanya Raja Ampat, saya sering di Raja Ampat. Pulau
Piaynemo dengan Pulau GAG itu kurang lebih sekitar 30 kilometer sampai
dengan 40 kilometer, dan di wilayah Raja Ampat itu betul wilayah
pariwisata yang kita harus lindungi,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis
(5/6/2025) dilansir Antara.
Bahlil menekankan,
kawasan Raja Ampat untuk wilayah pariwisata memang harus dilindungi agar
tetap terjaga kelestariannya. Namun demikian, ia juga berpendapat bahwa
kawasan tersebut memiliki lokasi yang dikhususkan untuk pertambangan.
“Tapi
luas wilayah pulau-pulau Raja Ampat itu sampai ada yang pendekatannya
sampai dengan Maluku Utara. Ini juga teman-teman harus tahu. Jadi
wilayah Kabupaten Raja Ampat itu banyak hutan konservasi, banyak
pulau-pulau yang untuk pariwisata, tapi juga ada pulau-pulau yang memang
ada pertambangan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan, terdapat lima perusahaan yang memiliki izin untuk mengelola pertambangan di Raja Ampat.
Nesju
demikian, ia menyebut hanya satu perusahaan yang beroperasi yakni PT
GAG Nikel, yang merupakan anak usaha dari PT ANTAM, Tbk.
“IUP
(Izin Usaha Pertambangan) di Raja Ampat itu mungkin ada lima, setelah
saya mendapat laporan dari Dirjen (Direktur Jenderal). Nah, yang
beroperasi sekarang itu hanya satu, yaitu PT GAG Nikel ini,” kata
Bahlil.
PT GAG Nikel telah melakukan produksi
sejak 2017 dan beroperasi pada 2018. Perusahaan tersebut, kata Bahlil,
dikelola oleh perusahaan asing melalui Kontrak Karya (KK), atau
perjanjian antara pemerintah dengan perusahaan berbadan hukum Indonesia
untuk melakukan kegiatan Usaha Pertambangan Mineral.
Kontrak
Karya ini, terjadi pada 1997-1998 dan kemudian diambil alih oleh negara
dan diserahkan kepada Antam. Saat ini produksi PT GAG Nikel yang masuk
dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) adalah 3 juta ton per
tahun.
“Asing kemudian pergi, diambil alih oleh
negara. Negara menyerahkan kepada PT ANTAM. PT ANTAM itu, anak
perusahaannya siapa, PT GAG Nikel,” katanya.







0 comments:
Posting Komentar