
Saya selalu berharap, pejabat-pejabat itu jika bicara selalu pakai data. Bukan pakai perasaan, apalagi emosional subyektif.
Saat dia bicara pakai data, maka cara berpikir, cara mengambil kesimpulan, kemudian membuat kebijakan, semua pakai data. Lagi-lagi, bukan pakai maunya dia saja.

Nah, maka, jika lihat tabel ini (data), Indonesia itu jelas TIDAK kekurangan universitas. Justeru, Indonesia adalah negara dengan rasio jumlah unversitas per penduduk sangat rendah. 1 Kampus di sini, melayani 86.000 penduduk. Di negara-negara maju, angkanya di atas 100.000.
Artinya apa? Sudah terlalu banyak kampus di sini. Lebay. Apalagi dengan pertumbuhan penduduk menurun, lihatlah, SD-SD sekarang itu buanyak yang kesulitan murid.
Maka, dengan situasi begini, apa seharusnya yang dilakukan pemerintah? Fokus memperbaiki yang ada. Tingkatkan kualitasnya, merger, gabungkan, bentuk kampus-kampus top dari yang sudah ada.
Nasib. Presiden kita entahlah mikirnya pakai apa. “Saya pengen 80.000 koperasi! Bikin!”, “Saya penge 30.000 dapur! Bikin!”, “Saya pengin nambah ini, itu! Bikin!!”
Bahkan jumlah kabinetnya saja, duuh Gusti, nyaris 100 orang jika menghitung wamen, dkk.
Apa sih tujuan Presiden menambah Universitas baru?
Proyek.
Saat dia tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada, UKT naik, IPI menggila, biaya kuliah melonjak tinggi, maka dia membuat yang baru saja. Universitas baru yang paling hanya dinikmati kurang dari 1% mahasiswa di Indonesia. Sama persis seperti proyek2-proyek sekolah Garuda, sekolah Rakyat, dkk. Sementara 99% lain, harus berjuang dengan biaya kuliah menggila.
Padahal itu sama-sama akhirnya memakai uang negara. Bukan uang Presiden. Duuh, apa susahnya itu uang buat kampus-kampus yang telah ada? Pilih 10 kampus terbaik, kasih anggaran 2 Triliun setiap tahun, itu UKT dan IPI bisa dihapus total. Riset naik, segala naik.
Tapi memang, akibatnya tidak ada proyek bangun gedung-gedung baru, tidak ada bancakan jabatan posisi baru, tidak ada semua. Tidak ada beli kaos kaki, seragam, anggaran jejeritan latihan militer, motor listrik, dll dsbgnya.
(Tere Liye)