Trump Batal Serang Iran, Sebut Kesepakatan Tercapai

Trump Batal Serang Iran, Sebut Kesepakatan Tercapai

Opini Rakyat -
Presiden AS Donald Trump mengatakan dia telah membatalkan rencana serangan dan pemboman AS terhadap Iran. Menurutnya hal ini setelah rancangan kesepakatan damai disetujui oleh “tingkat tertinggi” kepemimpinan Iran dan beberapa negara di kawasan. 

“Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, telah membatalkan jadwal serangan dan pemboman terhadap Iran malam ini,” tulisnya di Truth Social, Jumat.

“Diskusi dan poin akhir, baik secara konsep maupun detail, telah disetujui oleh semua pihak yang terlibat, termasuk Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, UEA, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, Mesir, dan lainnya,” ujarnya. 

“Blokade laut akan tetap berlaku penuh sampai transaksi ini diselesaikan – waktu dan tempat penandatanganan akan segera diumumkan.”

Sebelumnya pada Kamis malam, Trump sesumbar menyatakan akan melancarkan serangan besar-besaran ke Iran malam ini. Ia juga mengancam akan mengambil alih infrastruktur minyak Iran.

“Pada titik tertentu dalam waktu yang tidak lama lagi, kami akan mengambil alih Pulau Kharg, dan titik-titik infrastruktur minyak lainnya, dan mengambil kendali penuh atas Pasar Minyak dan Gas mereka, seperti yang kami lakukan dengan Venezuela,” katanya.

Trump juga mengulangi klaimnya bahwa kemampuan angkatan bersenjta Iran telah dihancurkan.

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Rabu malam. Teheran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap aset-aset AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk “serangan yang melanggar hukum dan kriminal” yang dilakukan AS, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut secara efektif membuat gencatan senjata pada 8 April menjadi “tidak ada artinya”.

Pihak berwenang di Kuwait, Bahrain dan Yordania melaporkan intersepsi rudal, dan Yordania sempat menutup wilayah udaranya.

⁠Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengatakan seorang gadis berusia 11 tahun ⁠menderita luka ringan dan dirawat di tempat kejadian setelah serangan Iran.

Komando militer gabungan Iran memperingatkan bahwa mereka akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melewati Selat Hormuz, yang sebagian besar telah ditutup selama berbulan-bulan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei angkat suara mengenai status negosiasi AS-Iran. Dalam komentar yang dimuat oleh kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, Baghaei mengatakan bahwa Qatar dan Pakistan secara aktif terlibat dalam upaya mediasi, namun tindakan AS baru-baru ini telah mempengaruhi proses diplomatik. 

Dia menambahkan bahwa Iran telah menyetujui sebagian besar rancangan teks perjanjian potensial, namun mengklaim AS telah berulang kali mengubah posisinya. Teheran, kata Baghaei, tetap teguh pada “garis merahnya”.

Salah satu garis merah Iran adalah serangan Israel ke Lebanon. Tahapan gencatan senjata permanen, menurut Teheran, harus menyertakan penghentian serangan tersebut.

Namun hingga Kamis malam, serangan masih terus terjadi. Tentara Israel melakukan serangkaian serangan baru di Lebanon selatan, menargetkan distrik Nabatieh, Tyre dan Bint Jbeil, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon. Serangan tersebut melanda Nabatieh, Chaqra dan Zibqin serta pinggiran al-Abbassieh.

“Belum ada yang berubah," Ali Akbar Dareini dari Pusat Studi Strategis di Teheran, mengatakan kepada Aljazirah.

Dari sudut pandang Iran, pertama-tama AS perlu mengambil langkah-langkah membangun kepercayaan sebelum negosiasi dilakukan dan sebelum Iran siap untuk membicarakan masalah nuklir.

"Hal itu tidak terjadi. Dan kenyataan di lapangan menunjukkan kepada kita bahwa Amerika tidak mengambil tindakan untuk meredakan ketegangan. Dari sudut pandang Iran, Iran tidak menyerah pada pemaksaan. Jadi saya punya banyak alasan untuk tidak mempercayai apa yang dikatakan Trump sebagai perkembangan nyata."

Perjalanan AS dan Iran masih panjang meskipun ada kemungkinan kesepakatan, kata mantan Jenderal Angkatan Darat AS Mark Kimmitt kepada Aljazirah. “Kita harus menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kesepakatan. Ini hanya sebuah MoU yang diperlukan untuk mengakhiri konflik yang ada saat ini,” ujarnya.

"Jadi hal ini akan menghentikan konflik, akan membuka Selat Hormuz, dan akan menjadi uang muka untuk negosiasi lebih lanjut. Namun kita belum mendengar rincian atau bagian sulitnya.”

Meskipun terjadi serangan militer baru-baru ini, Amerika dan Iran sama-sama mencari cara untuk mengakhiri perang, kata Zahid Mehmood, pensiunan mayor jenderal angkatan darat Pakistan. Dia mengatakan kepada bahwa Teheran berada di bawah tekanan ekonomi yang “luar biasa” sementara Trump menghadapi tekanan politik di AS, di mana perang tersebut sangat tidak populer. 

“Anda tidak bisa membiarkan Hormuz diblokir lebih lama lagi seperti ini… jadi mereka harus menciptakan insentif satu sama lain dan mengambil kesempatan ini, jalan keluar ini, yang telah diberikan Pakistan kepada mereka,” kata Mehmood.

Koresponden Aljazirah di Gedung Putih juga melaporkan, ada tekanan politik dari rekan-rekan Trump dari Partai Republik, yang khawatir akan dampaknya terhadap popularitasnya. Mereka khawatir bahwa dampak perang ini akan terus berlanjut hingga pemilu paruh waktu pada bulan November. 

“Lalu ada biaya ekonomi. Beberapa hari yang lalu, kita melihat inflasi meningkat di Amerika menjadi 4,2 persen. Biaya pengisian bahan bakar mobil lebih mahal, dan hal ini merupakan pajak bagi hampir semua bagian kehidupan di AS. Orang-orang khawatir, prihatin, marah, dan mereka menyuarakan hal itu dengan sangat jelas."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama