Opini Rakyat - Harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan melonjak tinggi dan membebani masyarakat jika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mampu mencari alternatif sumber pasokan BBM dari negara lain di tengah gejolak global.
Sayangnya, menteri dari Golkar ini gagal mencari solusi sehingga memaksa harga BBM di Indonesia melonjak. Imbasnya, kenaikan harga BBM ini menimbulkan dampak politik bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Secara politis, kenaikan harga Pertamax dapat berpengaruh terhadap Prabowo. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi bila Bahlil bisa mendapatkan sumber BBM dari negara lain,” kata Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga kepada RMOL, Jumat, 12 Juni 2026.
Ia menilai kenaikan harga BBM tersebut mencerminkan rendahnya kinerja Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.
"Kegagalan Bahlil itu menunjukkan kinerjanya yang rendah,” ujarnya.
Atas dasar itu, Jamiluddin berpandangan bahwa Presiden Prabowo perlu melakukan evaluasi terhadap kinerja Bahlil, termasuk mempertimbangkan langkah perombakan kabinet apabila dinilai diperlukan.
"Seharusnya Prabowo mengevaluasi Bahlil untuk direshuffle. Sebab, Bahlil tak mampu menjaga stabilitas harga BBM, khususnya Pertamax,” pungkasnya.
Kenaikan harga BBM awalnya hanya berlaku untuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex pada 18 April 2026. Kenaikan kembali terjadi di jenis BBM Pertamax Turbo dari Rp19.400 menjadi Rp19.900. Dexlite dari Rp23.600 naik menjadi Rp26.000, Pertamina Dex dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per 4 Mei 2026.
Terbaru, kenaikan signifikan juga menyasar Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini berlaku sejak 10 Juni 2026.
