Usai Dilantik, Rais Syuriyah PBNU Imam Jazuli Dorong Dakwah Digital dan Transformasi SDM Pesantren

Opini Rakyat - Usai prosesi pelantikan pengurus besar Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Rais Syuriyah PBNU K.H. Imam Jazuli menyampaikan pandangan strategis mengenai pentingnya transformasi total di lingkungan pesantren dan orientasi dakwah Nahdlatul Ulama (NU).

Ia menyoroti tantangan besar terkait minimnya penyerapan sumber daya manusia (SDM) lulusan pesantren di luar bidang keagamaan, serta perlunya adaptasi dakwah di era digital.  

​Menurut Kiai Imam Jazuli, mayoritas basis massa NU yang berada di perkampungan dan didominasi oleh generasi boomer memerlukan pendekatan baru agar nilai-nilai NU dapat diterima secara luas oleh generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha.  

​"Fakta-fakta hari ini, NU ini adanya kan di daerah perkampungan, dan orang-orang yang tua ya, yang gen-boomer lah. Nah, agenda besar kita adalah bagaimana NU itu bisa diterima oleh gen-alpha dan gen-z," ujar Kiai Imam Jazuli.

​Untuk menjawab tantangan zaman tersebut, beliau menegaskan bahwa paradigma dan perangkat dakwah NU harus direformasi.

Dakwah tidak lagi cukup hanya mengandalkan metode konvensional, melainkan harus merambah ruang digital dengan konten-konten solutif yang relevan bagi anak muda.  

​"Tentu perlu perubahan paradigma dakwah NU, khususnya dalam dakwah digital, bagaimana menyentuh mereka, itu yang pertama. Yang kedua, butuh alat-alat yang memang tepat. Kalau saat ini kan alat NU ini tradisional, artinya alat dakwahnya pengajian-pengajian saja," terangnya.

​"Bagaimana menghadirkan konten-konten yang bisa diterima, yang relate dengan anak muda, konten-konten yang solutif, yang sesuai dengan kebutuhan mereka, dan disajikan dengan gaya kekinian. Artinya mungkin dengan flash 60 detik, seperti itu. Saya kira butuh perubahan besar di NU, bagaimana dakwah NU itu," imbuhnya.

Sorotan utama yang paling ditekankan oleh Kiai Imam Jazuli adalah perlunya transformasi mendasar di dunia pesantren. 

Meskipun jumlah pesantren di Indonesia sangat melimpah, output SDM yang dihasilkan masih terkonsentrasi secara masif pada sektor keagamaan.  

​"Yang harus kita lakukan adalah transformasi di dunia pesantren. Harus kita akui pesantren sangat banyak jumlahnya, tetapi SDM yang dihasilkan oleh pesantren belum sesuai harapan kita. Kenapa? Masih terkonsentrasi pada SDM bidang keagamaan. Hampir 90 persen bidangnya keagamaan," ungkap Kiai yang juga Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. 

​Padahal, lanjut beliau, kebutuhan bangsa Indonesia sangatlah luas dan majemuk. Negara ini memerlukan kehadiran SDM berkualitas di berbagai sektor strategis, mulai dari birokrasi pemerintahan, dunia profesional, hingga sektor kewirausahaan. 

​"Padahal bangsa Indonesia membutuhkan SDM yang banyak sekali di berbagai bidang, baik di birokrasi, di dunia profesional, di di apa, di pengusaha, dan lain sebagainya. Jadi, bagaimana caranya? Ya, kita harus melakukan transformasi, bagaimana agar pesantren-pesantren itu mulai berpikir menciptakan SDM-SDM handal sesuai dengan kebutuhan negara ini. Sehingga ke depan, kita bisa mengharapkan pesantren itu sebagai solusi untuk bangsa," jelasnya. 

​Menjawab Krisis Integritas Birokrasi

​Kiai Imam Jazuli juga mengaitkan minimnya porsi lulusan pesantren di sektor birokrasi dengan berbagai persoalan tata kelola pemerintahan saat ini.

Ia menilai bahwa dunia birokrasi, baik di level eksekutif maupun legislatif, kerap diisi oleh orang-orang pintar namun masih menghadapi krisis integritas.  

​"Hari ini, ya karena minimnya santri di dunia birokrasi, pada akhirnya birokrasi kita, baik di eksekutif maupun di legislatif, punya masalah. Mereka orang pandai, tapi sedikit orang yang jujur. Nah, orang jujur itu dari pesantren. Nah, orang jujurnya SDM-nya tidak masuk di sana. Kenapa? Karena kompetensinya diarahkan bukan pada kompetensi kepentingan bangsa dan negara ini," paparnya. 

​Oleh karena itu, momentum kepengurusan baru ini dijadikan seruan bagi para pengasuh pesantren di seluruh tanah air untuk berani membuka diri terhadap perubahan. PBNU sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) terbesar, kata beliau, memiliki tanggung jawab moral untuk memfasilitasi proses transisi tersebut.  

​"Di situlah pentingnya para pengasuh pesantren untuk siap bertransformasi, dan PBNU sebagai ormas harus memfasilitasi ini agar proses transformasi ini bisa berjalan," pungkas Rais Syuriah yang diamanahi untuk mengawal bidang dakwah digital ini.


Sumber: Tribunnews

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama