Opposite News - Dampak atas kejahatan dan kebiadaban Israel ternyata sangat luas. Di samping Israel kalang kabut menghadapi Hamas dan kelompok yang membantunya, juga mendapat tekanan berat dari dunia Internasional. Lobi Yahudi yang dikenal hebat mulai terurai kelemahannya. Israel terkejut oleh hentakan perlawanan masif baik di Palestina maupun di berbagai belahan dunia. Jika salah langkah maka hapusnya Israel dari peta dunia dapat menjadi kenyataan.
Ironi di Amerika terjadi aksi massa anti Israel, demikian juga
negara Uni Eropa yang mulai ragu mendukung terang-terangan Zionis
Israel. Saat pemungutan suara di PBB hampir seluruh negara UE ternyata
memilih abstain. Israel berubah dari negara yang harus diakui
eksistensinya oleh dunia menjadi negara yang paling berbahaya di dunia,
negara bandit bahkan negara teroris.
Agenda intensif untuk membuka hubungan diplomatik
Indonesia-Israel yang sudah semakin mendekat, kini menjauh kembali.
Afiliasi Zionis baik institusi maupun personal mendapat hantaman. Rekam
jejak pun dibongkar paksa. Acara seminar “Interfaith” di Istiqlal yang
bertema “Relations Among Abrahamic Religious Communities in History and
Today” dengan pembicara Direktur American Jewish Committee (AJC) Ari
Gordon batal karena “dibombardir” umat pasca aktivis NU ke Israel.
Undangan Prof Nasaruddin Umar kepada AJC sepertinya sebagai
balasan AJC yang pernah mengundang Prof Nasaruddin Umar belajar agama
Yahudi di AS selama 6 minggu. Dua lembaga yang mengundang yaitu AJC dan
Jewish Theological Seminary (JTS). Sorotan pada Nasaruddin Umar atas
“hubungan gelap” ini harus berkonsekuensi pada evaluasi atas
kedudukannya sebagai Imam Masjid Istiqlal. Mesti secepatnya diganti.
Institusi bermasalah yang perlu dikritisi bahkan dibubarkan
adalah Rahim atau The Ibrahim Heritage Study Center for Peace. Lembaga
ini yang mengatur Aktivis NU bertemu dengan Presiden Israel Isaac
Herzog. PB NU telah mengultimatum dan PWNU DKI memecat beberapa personal
pengurus Rahim. Kerjasama dengan organisasi Zionis Israel B’nai B’rith
International dan Simon Wiesenthal Center sangat memprihatinkan.
Satu lembaga strategis “agen Zionis” di Indonesia “Museum
Holocaust” Minahasa wajib untuk ditutup. Rabbi Yaakov Baruch pendiri dan
pengelola Museum menjadi anggota delegasi pertemuan dengan Presiden
Israel beberapa waktu lalu. Museum ini menjadi pusat propaganda Zionis
Israel di Indonesia.
Ma’had Az Zaytun termasuk lembaga Islam yang mengagumi Zionis
Israel. Panji Gumilang sering “berda’wah” untuk kebaikan Zionis. Bahkan
secara implisit mendukung pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel.
Bebasnya Panji Gumilang patut menjadi sebab dari perlunya peningkatan
kewaspadaan terhadap orientasi dan kiprah Az Zaytun. Ingatkah lagu yang
dikomandokan Panji Gumilang “Hevenu Shalom Elechem” ? Itu lagu pujian
dan ibadah Yahudi.
Agen-agen Zionis tidak semata menggumpal dalam bentuk
kelembagaan atau organisasi tetapi juga pada personal-personal yang
melakukan infiltrasi di berbagai instansi sipil maupun militer. Termasuk
kampus dan ormas keagamaan. Yahudi memang sejak lama dikenal mahir
dalam lobi dan penyusupan. Peran Rotary Club dan Lions Club yang
disinyalir bagian dari Freemasonry ternyata cukup besar dalam lobi dan
infiltrasi tersebut.
Peta konflik Palestina dan Israel yang semakin menekan dan
mengucilkan Israel harus menjadi momentum peningkatan semangat bangsa
Indonesia untuk terus berjuang mendukung kemerdekaan Palestina. Semua
gerak Zionis Israel dalam mencari simpati rakyat Indonesia mesti
dipotong dan dimatikan. Saatnya untuk mulai menyikat semua hal yang
terafiliasi dengan Israel.
Israel adalah negara penjahat kemanusiaan yang tidak boleh ditoleransi.
Sikat habis afiliasi Israel. Terkutuklah Zionis.
by M Rizal Fadillah
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 25 Juli 2024
