Opini Rakyat - Kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa siswa dan guru di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus membesar. Hingga Rabu (9/9/2026) sore, 243 orang harus mendapatkan penanganan medis setelah mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah, hingga diare.
Jumlah tersebut terdiri atas 230 siswa dan 13 guru dari MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong.
Lonjakan pasien membuat layanan kesehatan di Pati harus bekerja ekstra. Dinas Kesehatan Kabupaten Pati bahkan memperluas penanganan ke empat fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Gembong, RSUD RAA Soewondo Pati, Keluarga Sehat Hospital (KSH), dan RS Mitra Bangsa Pati.
Situasi paling berat terjadi di RSUD RAA Soewondo Pati. Ambulans terus berdatangan membawa pasien, sementara sejumlah siswa terlihat harus dipapah petugas dan keluarga untuk mendapatkan perawatan.
Plt Direktur Utama RSUD RAA Soewondo Pati, dr Ahmad Husein, mengatakan rumah sakit telah menangani 136 pasien hingga Rabu sore.
Kapasitas ruang perawatan yang penuh memaksa rumah sakit memanfaatkan aula sebagai ruang perawatan darurat. Tempat tidur tambahan juga disiapkan untuk menampung pasien.
“Insyaallah tertangani semua ya. Kalau rumah sakit kami yang masuk itu ada 136 orang. Kalau yang berat, muntah, dan mencret lebih dari 10 kali, langsung kita infus. Yang kurang dari itu kita evaluasi,” ujar Ahmad.
“Karena ruangan RS Soewondo penuh semua, sementara kita tempatkan di aula sampai bed pinjaman tiba,” lanjutnya.
Pasien dengan kondisi lebih berat mendapatkan infus serta pemantauan lebih lanjut. Sementara pasien dengan gejala lebih ringan tetap menjalani evaluasi medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut kasus ini sebagai kejadian luar biasa yang melibatkan siswa dan guru dari dua sekolah.
Dinkes menduga kejadian berkaitan dengan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi sehari sebelumnya. Namun, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab pasti.
“Sekali lagi ini masih dugaan keracunan MBG makanan yang kemarin. Tim kami masih melakukan penyelidikan epidemiologis, jadi kami belum bisa memastikan penyebab pastinya seperti apa,” kata Luky.
Untuk memastikan penyebabnya, petugas telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para siswa. Sampel tersebut dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Pengujian Alat Kesehatan (Labkes PAK) Provinsi Jawa Tengah di Semarang untuk menjalani pemeriksaan.
Pemeriksaan laboratorium menjadi kunci untuk memastikan apakah makanan MBG benar-benar menjadi sumber masalah atau terdapat faktor lain yang memicu munculnya gejala pada ratusan siswa dan guru
Sumber: monitorIndonesia
